Kembali


Kembali ke tempat yang sama untuk keberkian kalinya ternyata tak mudah. Banyak kenang yang menggenang melintas di kepala. Terutama tentang sosok yang pernah berjanji tak kan pergi. Tapi justru dia yang lebih dulu meminta hilang. 

"Tak jadi pergi Des?" Sesorang yang dari tadi memperhatikan keraguanku buka suara. "Masih belum move on?" Dia menambahkan. "Bukan gitu sih, Kak, move on-nya sudah, ikhlasnya juga sudah, tapi lupanya belum." 


"Perempuan memang gitu. Udah dimaafin tapi kan?"
"Kalo soal maaf jangan khawatir, Kak, cantik-cantik begini aku pemaaf lho."
"Gak usah pake senyum ngomongnya. Tapi ya itu dia perempuan, move on sudah, maaf sudah, ikhlas pun sudah, tapi lupanya tidak. Aku pulang ya. Jangan ragu-ragu, jikalau memang tak mau tak perlu dipaksa. Biar aku yang sampaikan ke Bos."
"Iya, Kak. Tapi tak perlulah sampe ke telinga si Bos, Kak. Masih bisa kuatasi kok."

Semoga kau bertemu dengan orang yang lebih baik dariku. Kataku saat itu. Jangan merendah, tak ada yang lebih baik darimu. Katanya. Terima kasih tapi aku bukan merendah, cuma aku juga berhak dapat yang lebih baik darimu. Balasku. 

Dan setelah semua itu, tak pernah lagi kami berbagi kabar. Hubungan itu selesai dengan penyelesaian yang sempurna menurutku. Karena tak ada kekerasan di sana. Tapi pagi ini ada hal yang mengharuskan aku kembali ke tempat itu. Seolah menyegarkan kembali ingatanku, kalau kisahku pernah berawal dan berakhir di situ di tempat yang akan kutuju itu.

Comments

Popular Posts