Narika


Tak sempat kunikmati aroma kopi pagi ini. Seorang pemaksa tiba-tiba berkabar. "Temui aku di persimpangan". Katanya. Karena kabar itu aku kehilangan kopi dan pagiku. Kupercepat langkahku menuju persimpangan. Empat puluh lima menit dari sekarang aku harus bertemu Heru, seorang pengusaha yang tertarik berinvestasi di Cafe Buku yang aku dan temanku kelola. 


Kira-kira dua meter lebih jarak antara aku dan persimpangan seseorang melambai ke arahku. Tapi dia tak sendiri, ada anak kecil berdiri di sampingnya. 
"Ada apa? Kenapa kau memintaku menemuimu di sini? Mau menghancurkan hidupku lagi? Mau minta maaf? Atau apa? Cepat katakan, waktuku tak banyak. Apalagi kalau untukmu."
Dia tampak ragu menjawabku. "Ini Narika, anakku." jawabannya persis seperti dugaanku. "Lalu, apa hubungannya denganku?" 
"Aku ingin kau mengasuhnya." Katanya. "Jangan gila. Kau pikir aku istrimu?" 
"Hmm... Iya, eh... Maksudku bukan." 
"Lalu, untuk apa kau minta aku mengasuhnya? Tak perlu kaujawab. Waktu untukmu sudah habis. Aku harus pergi."

Hendak beranjak aku dari persimpangan itu, tapi suara jernih dari bibir mungil itu berhasil menghentikan langkahku.
"Mama..."

Tenggorokanku tercekat, pandanganku melekat pada wajahnya, wajah bening tak berdosa. Tapi waktuku tak tersisa, aku harus beranjak dari sini Heru sudah menungguku di suatu tempat. "Maaf, aku bukan mamamu." Tanpa menghiraukan ayah dan anak itu aku berlalu.

Comments

Popular Posts