Syafira

Tiga hari terakhir, sejak pengumumn perpisahan. Masalah satu per satu muncul, mulai dari masalah pekerjaan, sampai masalah penipuan. Benar, pasti ada tujuan dalam setiap kisah di masalah yang datang, tapi kenapa justru datangnya seabreg-abreg kalau satu per satu kan lebih enak memecahkannya.

"Gimana, udah selesai?"
"Masih belum, Bang. Terima kasih untuk selalu berada di sampingku, Bang. Saat ini cuma Abang yang masih percaya aku."

Nanar mataku, terpandang ke langit. Langit yang tadinya selalu cerah hingga senja, tiba-tiba saja mendung kelabu. Ah, andai saja tak kuiyakan ajakannya sialan Pras, pasti tak kan begini jadinya.  Kenapa kau Pras yang justru muncul di hidupku? Jika aku tau akan begini, tak kan kusambut kedatanganmu.

"Kenapa? Teringat kejadian kemarin lagi?" aku hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Bang Adam. "Sudahlah, dia takkan kembali, kalau pun dia kembali, keadaan tidak akan berubah. Keadaan masih akan tetap sama." Bang Adam panjang lebar.


"Aku tahu, Bang. Sebentar aku ke belakang. Mungkin ada yang bisa aku suguhkan buat Abang."
"Tidak usah kau merepotkan dirimu. Aku tak minta apa-apa darimu."
"Tapi aku tak bisa, Bang. Biar bagaimana pun pertolongan Abang, betul-betul telah membantuku."
"Fira, kalau kau ke belakang, aku pulang."
"Ah, kau, Bang. Selalu saja begitu, aku hanya ingin menunjukkan padamu, kalau aku masih punya sesuatu yang bisa kuberi untukmu."
"Iya, tapi aku hanya ingin ada di sampingmu sekarang. Jangan kau ke mana-mana. Cukup di sini saja."

***
"Syafira! Kau Syafira kan? Karyawan P.T. Indoraya Pratama?" aku mengangguk dalam kebingungan. "Aku Prasetyo Permana. Anak pemilik P.T. Indoraya Pratama."

"Lalu, apa hubungannya denganku?" hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.
"Tidak ada memang. Tapi boleh aku mengenalmu?"
"Untuk apa?"

Bersambung





Comments

Popular Posts