Tatapan


Mau cerita apa? Aku pun lupa. Sejak tatapanmu tembus ke jantungku, aku kehilangan kata-kata. Kenapa tatapanmu itu bisa segitu mematikan? Apa kau terlahir sudah dengan keadaan begitu? Hmm… sepertinya tidak. Atau kau memang mempelajarinya? Mempelajari apa katamu? Mempelajari agar tatapan bisa mematikan. Hahaha… tawamu pecah, seolah mengiyakan pernyataanku. Dan itu membuatku semakin yakin kau mempelajari itu. Padahal dulu, tiga tahun yang lalu, kau yang mengatakan tatapanku sungguh kejam. Membuatmu tidak tidur semalaman. Apa sekarang kau balas dendam? Kuharap iya, karena aku suka tatapanmu yang sekarang.

Boleh aku berbicara? Katamu. Bukankah itu kau sedang berbicara? Balasku. Kau tersenyum dalam gelenganmu. Tidak! Kau tidak boleh bicara. Hari ini giliranku. Dua tahun lebih kita tidak pernah berbicara, hanya karena status kita berubah. Sekarang kau datang dan aku bimbang. Untuk itu kau cukup hanya menjadi pendengar saja, setidaknya untuk 30 menit ke depan. Setelahnya silakan bicara sesukamu. Aku akan jadi pendengar yang baik. Ah, kan, kau menatapku lagi. Kali ini bukan hanya jantungku yang tertembus, ini sudah ke hati. Kalau kau menatapku begitu tak kan tahan aku bicara 45 menit ke depan, karena jantung dan hatiku terisi penuh dengan tatapanmu. Dan kini, giliran matamu pula yang berbicara. Aku menyerah. Bicaralah kau sekarang aku akan diam.

#Medan, 6 Juni 2014

Comments

Popular Posts