Pertanyaan yang Tak Kunjung Selesai

Sebuah Catatan Pengingat Diri

Kamu tahu tidak, ada "pertanyaan-pertanyaan" yang mungkin awalnya di hatimu yang kecil itu niatnya hanya bercanda, tetapi jadinya malah menyakiti orang lain. Kamu tentu tidak tahu seberapa besar perjuangannya untuk mencoba tersenyum ketika "pertanyaan" itu kamu lontarkan? Kamu tidak tahu kan betapa ia sangat ingin menghindari dan juga menjawab dengan bahagia "pertanyaan"mu itu? Dia yang tadinya semangat dan ceria menikmati hidupnya, tiba-tiba diberi "pertanyaan" itu, ya kacau juga pikirannya. Sedikit banyak dia jadi memikirkan, bukan selama ini tak terpikirkan tetapi karena "pertanyaan" itu bisa jadi berlipat-lipat pikirannya tentang itu.  


Hidup ini tak melulu tentang cinta, apalagi cinta dengan lawan jenis. Sebelum mengenal lawan jenis, yang akhirnya kamu sebut dengan istilah pacar, kekasih, honey bunny sweety atau apapun istilahmu untuk itu, kita tumbuh dan berkembang di lingkungan keluarga di bawah bimbing asuh dan kasih serta sayang orang tua.

Kamu itu, kalau sudah punya pacar, khawatirnya berlebihan. Mau ngapain aja yang diingat terlebih dahulu pacar, bahkan Tuhan pun mungkin terabaikan, padahal belum tentu juga pacarmu itu jodohmu. Kamu sanggup bertanya ke seseorang yang kamu sebut pacar itu, "Sudah makan apa belum?", "Sudah mandi apa belum?", "Sudah pulang apa belum?" dan sebagainya, tetapi orang tua yang ada di sampingmu saat kamu bertanya tentang hal-hal itu melalui ponselmu, tak terpikirkan olehmu. Ibumu yang sedari pagi memasak karena memikirkan anaknya pulang dalam keadaan lapar pun luput dari tanya.

Kembali lagi ke "pertanyaan-pertanyaan" yang kamu lontarkan yang akhirnya menyakiti orang. Kenapa setiap hadir di resepsi pernikahan melihat foto pernikahan dan apapun yang berhubungan dengan yang namanya "nikah" dan karena kamu sudah menikah, lalu melihat saudara atau kenalanmu yang usianya sudah masuk kategori wajib nikah, kamu selalu bertanya "Kapan nyusul?", atau "Kapan lagi?", "Nunggu apalagi?". Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin hanya sekedar basa basi karena kamu ingin berbincang dengannya tetapi tidak ada topik yang kamu kuasai. Akhirnya kamu ingat statusnya saat itu dan muncullah pertanyaan tersebut. Pertanyaan yang mungkin biasa saja bagimu, tetapi terasa luar biasa baginya. 

Orang-orang dalam usia wajib nikah tetapi belum juga menikah pasti ada alasannya. Alasan yang paling masuk akal, belum ketemu jodohnya. Bisa juga karena terlalu mencintai kemudian dikecewakan, atau pernah merencanakan tetapi gagal. Bisa jadi juga karena terlalu memilih, mencari yang spesifikasinya tinggi. Tetapi apapun alasannya, untuk apalah kita menanyakan hal-hal yang belum bisa dijawab dengan jawaban yang sesuai dengan keinginannya juga keinginan kita? Akan ada beberapa pertanyaan lanjutan setelah pertanyaan "kramat" pertama dijawab, di antaranya, "Sudah berapa anggota (anak)?", "Kapan mau nambah lagi?" dan lain-lain. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak akan pernah habis dan selesai. Lagian, apakah dengan menanyakan hal yang belum bisa dijawab kamu dapat keuntungan, kenikmatan, atau kebahagiaan? Tidak juga kan?

Jadi, berhentilah menanyakan "pertanyaan" yang bisa menyakiti orang lain. Bayangkan kalau yang di posisi itu kakakmu, adikmu, abangmu, saudaramu, atau bahkan kamu. Karena hidup, mati, rezeki, dan jodoh itu termasuk rahasia Allah, biarlah menjadi rahasia yang paling rahasia.

Berhenti bertanya, doakan saja.
Semoga bisa segera...

Medan, 11 September 2017
Pertengan Musim Hujan  

Comments

Popular Posts