Ada Kemarau di Rumahku
Pagi ini cahaya matahari seakan enggan
hangatkan rumahku. Kicauan burung tak sekalipun terdengar, kokokan ayam
apalagi. Semua menjauh dari rumahku, sedetik pun tak berminat untuk singgah.
Seperti biasa, ibu menyiapkan sarapan, tapi kali
ini ada yang tak biasa kurasakan dari ibu, bahkan terlihat aneh, walau mungkin
hanya pikiranku saja. Ibu tidak bergairah, semangat hidupnya seperti lenyap
terkubur bersama jasad Kak Rama. Semenjak Kak Rama pergi untuk selamanya dari
kehidupan kami, ibu jadi seperti itu, ibu benar-benar berbeda, tidak seperti
ibu yang kukenal. Aku juga mengalami kesedihan yang dialami ibu, tapi bukan
begini caranya menyikapi kehilangan orang yang amat sangat kita sayangi.
“Bu, itu untuk siapa? Kan sudah cukup semuanya.” kucoba cairkan suasana, walau kuyakin takkan ada respon dari ibu.
“Bu, untuk siapa?” pertanyaan yang sama
kuajukan. Seperti yang kuduga, ibu hanya diam, mengunci mulutnya rapat-rapat,
mengurung setiap kata yang ada di benaknya, membiarkan kata-kata itu bersembunyi
dalam pikirannya.
“Sudah, Ra. Biarkan saja.” Bapak mencegahku
melanjutkan.
Entah kenapa ibu masih belum bisa menerima
kenyataan. Padahal Kak Rama pergi sudah dua bulan yang lalu, tapi ibu selalu
merasa Kak Rama masih berada di rumah. Aku tahu ini sulit, tapi tidak
seharusnya ibu seperti itu.
***
“Bu,
sudah siang. Ibu tidak ke pasar?”
Kuajukan pertanyaan yang sama beberapa kali,
namun tak satu pun respon dari Ibu kudapat. “Bu, sampai kapan Ibu akan begini?
Kak Rama tidak akan pernah kembali, Bu!”
“Diam kamu, Ra!”
Aku terperanjat, sedikit ruang di hariku
tersentak. Setelah dua bulan membisu, Ibu membebaskan kata-kata yang selama ini
terpenjara dalam bibir mungilnya. “Rama pergi cuma sebentar, nanti malam dia
juga akan pulang!”
“Ibu, buang harapan seperti itu, itu tidak
akan pernah terjadi, Bu.” kataku lembut.
Lama aku menunggu respon Ibu, Ibu tak
membalas hingga akhirnya aku memilih beranjak dari hadapan Ibu. Kusandarkan
kepalaku di kursi yang usianya lebih tua satu tahun dariku. Kupejamkan mataku,
mencoba mengingat kembali peristiwa perginya Kak Rama. Mengapa semuanya harus
terjadi, mengapa secepat itu Kak Rama pergi? Mengapa sekarang Ibu berubah
drastis? Astaghfirullah, aku tidak
boleh seperti ini, semua yang terjadi sudah menjadi ketentuan-Nya. Tidak ada
yang bisa menghindar atau bersembunyi di mana pun.
Sore itu, 12 November 2009
“Ra! Aku juara!” Kak Rama berteriak saat
memasuki rumah.
“Juara? Cieee… selamat ya, Kak.” sambutku.
“Masa’ cuma selamat.”
“Trus, maunya apa?”
“Kasi yang spesial dong, sapa tau ini
prestasi yang terakhir dari Kakakmu ini.”
“Ih, Kak Rama kok ngomongnya gitu sih?”
“Maksudnya, mungkin di pertandingan yang akan
datang Kak Rama kalah atau malah nggak ikut bertanding.”
“Mana mungkin, Kak Rama kan tak terkalahkan.”
jawabku sekenanya.
“Ya, sudah Kak Rama mandi dulu. Tapi nanti
harus ada yang spesial dari kamu, ok.” aku mengangguk mengiyakan.
Karena permintaannya, aku berniat
mentraktirnya makan di warung kaki lima langganan kami yang jaraknya tidak
terlalu jauh dari rumah. Warung itu tidak hanya bersih, tapi seperti ada chemistry antara kami dan warung itu.
Dan entah kenapa setiap ada yang minta ditraktir kami selalu membawanya ke
warung itu.
“Kak, enak ya jadi juara. Disenangi orang,
dikenal orang, bahkan dapat perhatian lebih dari Ibu sama Bapak. Apalagi Kak
Rama anak laki-laki satu-satunya, Ibu sama Bapak pasti senangnya bukan main.
Karena Kak Rama bisa dibanggain.” aku membuka percakapan setelah sampai di
warung itu.
“Kamu ini ngomong apa? Orang prestasinya
biasa aja kok. Nggak ada yang istimewa.”
“Iya, nggak ada yang istimewa, karena Kak
Rama udah terbiasa dengan semua itu. Sedangkan Ira, dapat rangking cuma dikasi
selamat, sedikit senyum dan …”
“Dan apa? Dan kamu cemburu?” Kak Rama
memotong kalimat yang bingung untuk kucari kelanjutannya.
“Cemburu? What?
Sama saudaranya sendiri cemburu? Ih nggak lah yaw.”
“Ya uda senyum dong.”
“Dari tadi kan uda senyum.” kataku sambil
memamerkan senyum yang seperti dipaksakan.
“Oh, uda tho.”
Masih sangat jelas terekam pembicaraan dengan
Kak Rama, walau perbincangan itu ternyata jadi perbincanganku yang terakhir
dengan Kakak kebanggaanku, Ibu, dan Bapak. Peristiwa itu sungguh di luar
dugaan, saat itu kami telah selesai dan berniat pulang. Tiba-tiba dari arah
yang berlawanan seorang pengendara sepeda motor tidak dapat menguasai dirinya,
hingga akhirnya bertabrakan dengan aku dan Kak Rama. Kak Rama berasa persis di
bawah sepeda motor pemuda itu. Dengan wajah dan sekujur tubuh penuh darah, Kak
Rama memanggil namaku. Aku yang pada saat itu juga tertabrak, tidak mengalami
luka serius, tapi Kak Rama, aku tidak sampai hati jika harus menyaksikan
Kakakku dalam keadaan yang begitu menyedihkan.
Kak Rama tidak tertolong, ia tidak cukup kuat
untuk bisa sampai di rumah sakit. Dan aku masih ingat kata-kata yang
dikeluarkan ibu saat itu, “Ini semua gara-gara kamu, Ra. Kalau kamu tidak
membawanya ke sini, ini semua takkan terjadi!” Ibu berkata sambil mengarahkan
telunjuknya ke aku, seolah-olah akulah penyebabnya. Aku sungguh tidak menyangka
ibu memvonisku seperti itu.
Sejak itu hubunganku dengan ibu tidak hangat,
tidak harmonis lagi. Dan kepergian Kak Rama benar-benar menjadi saat yang
paling menyakitkan untukku. Usahaku menghibur Ibu, mengembalikan keceriaannya,
belum ada yang berhasil. Hampir tiga bulan Ibu hidup dalam keharuan yang
mendalam, sebanyak itu juga aku mencoba mengiburnya. Tetapi segaris senyum pun
belum diberikan Ibu untukku.
***
Mentari mulai bersinar. Suasana sekolah tidak
ada yang berubah, sebentar lagi aku akan meninggalkan semua kenangan di kota
ini, di sekolah ini, bahkan di rumahku. Rumah yang beberapa bulan terakhir
minim kehangatan. Hari ini seluruh penghuni sekolah dijajarkan di lapangan. Ada
peristiwa penting dan bersejarah bagi sepuluh orang siswa terbaik. Ada
pengumuman perihal penerimaan beasiswa kuliah di ibukota dan aku masuk dalam
sepuluh orang itu. Sesungguhnya ini kebanggaan yang luar biasa apabila Ibu dan
Bapak mengetahuinya, itulah harapanku. Walaupun sulit menuju ke sana. Untuk
memberitahu Ibu bukanlah hal yang mudah untukku saat ini. Kalau Bapak, aku
yakin akan senang, tapi Ibu? Itu yang sungguh sulit dan sedikit menyiksa,
mengingat Ibu tidak pernah peduli dengan keadaanku setelah kepergian buah hati
tercintanya.
Satu per satu peraih beasiswa itu maju ke
depan. Setelah tiga orang penerima, namaku Nashafira Sofyan, menggema di
seantero sekolah. Betapa senangnya aku jika di antara orang yang berbahagia itu
ada Ibuku.
Pengumuman selesai, seluruh siswa kembali ke
ruangannya masing-masing. “Bu, andai saja Ibu tahu apa yang aku raih saat ini,
banggakah Ibu kepadaku? Dapatlah kunikmati senyum yang entah sampai kapan
bersembunyi di balik bibir mungilmu?” hatiku berbisik menahan gejolak rasa yang
kualami saat ini.
Tiba di rumah, aku tidak menjumpai Ibu di
teras depan. Biasanya ibu berada di situ hingga senja menghilang. Tapi kini
tidak. Kucari Ibu, walaupun Ibu tidak merespon, aku akan tetap bagikan berita
bahagia ini. Ibu di teras belakang rupanya.
“Bu, Ira dapat beasiswa kuliah di Jakarta.
Ira akan berangkat setelah kelulusan SMA.” aku diam, kutunggu balasan dari Ibu,
tetapi seperti dugaanku, Ibu tidak merespon, sesekali ia hanya bergeming tanda
masih mendengarkanku.
“Bu, Ibu tidak senang dengan prestasi, Ira?
Bu, Ira mohon kali ini saja, Bu. Ira ingin melihat senyum Ibu, senyum yang
ceria, senyum yang hangat, senyum seorang Ibu untuk anak gadisnya.” Ibu
menghela nafas, ketika ingin beranjak aku mencegahnya. Kuraih tangan Ibu,
tangan yang kini terasa dingin. Ibu menuruti raihan tanganku, duduk di
hadapanku, “Bu, Ira tahu Kak Rama yang terbaik di hati Ibu,Kak Rama tidak
pernah membangkang, selalu menuruti Ibu, tidak pernah minta yang aneh-aneh. Ira
juga tau, Ira nggak pernah buat Ibu bangga punya anak seprti Ira, Ira tau kok,
Bu. Ira nggak mungkin bisa menggantikan posisinya Kak Rama, walaupun Kak Rama
sudah tidak ada. Karena di hati Ibu hanya ada satu nama RAMA. Ira nggak pernah
ada, karena Ira bukan siapa-siapa buat Ibu.” ungkapku panjang lebar. Tetapi
betapa sakitnya aku, Ibu hanya diam, tak peduli dengan kekecewaanku.
Ya Tuhan, bagaimana caranya agar Ibu bisa
kembali peduli padaku? Sebegitu berartinya Kak Rama buat Ibu, hingga begitu
dalam rasa kehilangan yang dirasakannya. Apa mungkin kalau aku yang pergi ibu
akan menjadi seperti sekarang?
Ibu masih tidak bergeming. Saat tadi tanganku
meraihnya ia menatapku dalam. Tapi tetap tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
“Bu, cukup, Bu, cukup! Ira tidak tahan jika Ibu terus-menerus seperti ini. Di
detik-detik keberangkatan Ira pun, Ibu masih tidak mau memberikan sedikit
senyum untuk Ira, Bu? ” aku tahu ini bukan tindakan yang benar, berbicara keras
kepadanya, tapi aku tidak sanggup jika harus menghadapi Ibu setiap hari dengan
wajah harunya. Dengan senyum yang tak kunjung keluar dari bibir mungilnya.
“Bu, Ira tahu Ibu sedih, tapi tidak baik
terlarut dalam kesedihan. Lihat Bapak, betapa shocknya ia ketika mengetahui anak kebanggaannya telah tiada. Tapi,
Bapak bisa menghadapinya dengan tenang. Bu, tidak baik terlalu lama larut dalam
kesedihan. Allah juga tidak menyukai hamba yang seperti itu. Allah ingin
umat-Nya tetap tegar, tabah dan sabar menjalani ketentuan-Nya.” Ibu memejamkan
matanya sejenak, entah sebagai respon atau tidak, aku tidak dapat
mengartikannya. Ibu kembali tenggelam dalam diamnya.
Walau bagaimanapun di detik-detik terakhir
kebersamaanku dengannya, aku tidak akan jenuh mengingatkan Ibu untuk bangkit
dari kesedihan dan keharuannya. Aku tidak akan jenuh memberinya semangat dan
kehangatan yang telah ikut terkubur dua bulan yang lalu.
“Ira sayang Ibu.” kukecup keningnya dan
berlalu.
***
Comments
Post a Comment