Sambungan Mendung
Sore ini...
Seperti orang yang sedang tidak punya kerjaan. Fandi masih tetap berada di depan kos-kosanku. "Mau sampai kapan kau di sini, Fan? Apa keluargamu tidak mencarimu?" tanpa menunggu jawabannya kutinggalkan dia. Masih banyak yang harus aku kerjakan, daripada menjumpainya, bisa-bisa luka yang kucoba sembuhkan sendiri hadir kembali.
"Ra, ada yang nyariin nih" teriak Fika dari luar. "Ganteng lho orangnya, kalo nggak mau nemui, biar aku temeni ya!" sambungnya masih dengan berteriak.
"Iya, temeni saja!" jawabku dengan berteriak juga.
"Nggak jadi ah." tiba-tiba Fika sudah berada di depan kamarku.
"Kenapa?"
"Dia maunya ditemeni kamu."
Mungkin sikapku keterlaluan, tapi aku tidak berniat untuk menemuinya. Setiap melihatnya, yang terbayang olehku justru gadis berkursi roda yang dua minggu lalu dikenalkannya padaku. Ah, apa kabar gadis itu? Terkadang hatiku tergelitik untuk tahu tentangnya, tentang semuanya, tentang hal yang disembunyikan Fandi dariku. Tapi buat apa? Toh dia sudah mengatakan kalau gadis itu calon istrinya.
Menjelang senja...
"Ra, ke warung depan yok?"
"Mau ngapain, Kak?"
"Udah ayo aja." Tanpa bertanya lagi aku ikuti Kak Dian ke depan, dan betapa kagetnya aku ternyata Fandi masih berada di sini, di kos-kosanku.
"Ya ampun, Fandi?"
"Ra,"
"Apa? Aku kan udah bilang, aku nggak butuh penjelasan. Semuanya sudah terlalu jelas buatku, Fan. Pulanglah, keluargamu pasti khawatir.
"Tapi, Ra..."
"Nggak pake tapi, kalau masalah maaf, aku sudah memaafkanmu. Ayo, Kak."
Untuk kesekian kalinya dia kutinggalkan, berharap sekembalinya aku dari warung, dia sudah tidak berada di sini lagi.
Dan ternyata perkiraanku salah...
Comments
Post a Comment