Mendung...
Selasa pagi menuju kantor...
Entah kenapa, pagi ini aku tak semangat, mendung mungkin yang jadi penyebabnya. Tapi, masa' iya cuma karena mendung semangat pun ikutan mendung? Atau mungkin karena suasana hati ya? Fandi berarti.
Fandi.
Pagi tadi, pukul tujuh lebih lima belas menit dia muncul tepat di depan pintu kos-kosaanku. Padahal sudah hampir dua minggu dia tak menyapaku lewat apapun. Pertengkaran dua minggu yang lalu menuntaskan hubungan kami. Kalau saja dia jujur, mungkin tak separah ini rasa sakitku.
"Siapa dia, Fan?" dia tak menjawab, aku terkurung dalam kebisuannya. "Fan?"
"Iya, Ra. Kenalkan, ini Sandra." jawabnya datar
"Hubugannya denganmu apa?" menunggu jawaban Fandi, aku memperhatikan gadis berkursi roda yang duduk manis di tempatnya itu.
"Ca...calon istriku, Ra." jawabnya gugup.
Oke, terima kasih atas jawabanmu" aku berlalu, tanpa mempedulikan apapun.
Setelah semuanya, setelah enam tahun hubungan kami, muncul gadis berkursi roda sebagai calon istrinya.
"Thanks, Fan. Aku mau berangkat kerja, tak keberatan kan kalau kau juga harus beranjak dari sini?"
"Ra..." kucegah kalimat tak tuntas darinya.
"Aku tak perlu penjelasan, Fan. Kehadiran Sandra sudah cukup jelas buatku." Kutinggalkan dia yang terpaku di depan pintu kos-kosanku.
Entah kenapa, pagi ini aku tak semangat, mendung mungkin yang jadi penyebabnya. Tapi, masa' iya cuma karena mendung semangat pun ikutan mendung? Atau mungkin karena suasana hati ya? Fandi berarti.
Fandi.
Pagi tadi, pukul tujuh lebih lima belas menit dia muncul tepat di depan pintu kos-kosaanku. Padahal sudah hampir dua minggu dia tak menyapaku lewat apapun. Pertengkaran dua minggu yang lalu menuntaskan hubungan kami. Kalau saja dia jujur, mungkin tak separah ini rasa sakitku.
"Siapa dia, Fan?" dia tak menjawab, aku terkurung dalam kebisuannya. "Fan?"
"Iya, Ra. Kenalkan, ini Sandra." jawabnya datar
"Hubugannya denganmu apa?" menunggu jawaban Fandi, aku memperhatikan gadis berkursi roda yang duduk manis di tempatnya itu.
"Ca...calon istriku, Ra." jawabnya gugup.
Oke, terima kasih atas jawabanmu" aku berlalu, tanpa mempedulikan apapun.
Setelah semuanya, setelah enam tahun hubungan kami, muncul gadis berkursi roda sebagai calon istrinya.
***
"Ini buatmu, Ra." kuterima pemberiannya pagi itu dengan perasaannya yang tidak karuan."Thanks, Fan. Aku mau berangkat kerja, tak keberatan kan kalau kau juga harus beranjak dari sini?"
"Ra..." kucegah kalimat tak tuntas darinya.
"Aku tak perlu penjelasan, Fan. Kehadiran Sandra sudah cukup jelas buatku." Kutinggalkan dia yang terpaku di depan pintu kos-kosanku.
Comments
Post a Comment