Karya Anak Bangsa


Putri Duyung
Chairani A. Br. Nasution

Aku sangat kesal kepada orang tuaku, karena orang tuaku tidak mengizinkanaku menonton TV, padahal mereka akan pergi keluar. “ Ih, sebel deh.” ucapku kesal. Pada saat itu ibu tiba-tiba masuk ke kamarku. “Hm... kenapa mukanya kok bete gitu?” tanya ibu.
            “Ibu, kenapa sih? Ibu sama ayah kan mau pergi, kenapa aku gak dibolehi nonton. Bikin sebel deh.”
“Oh, jadi kamu bete gara-gara tidak diizinkan ayah nonton TV ya?” tanya Ibu seperti tidak tahu apa-apa. “Yaiyalah, Bu.” Jawabku kesal. Pada saat yang bersamaan ayah muncul. “Ehem...!” aku kaget karena tiba-tiba ayah masuk ke kamarku. “Loh, Ayah kok di sini?” tanyaku bingung.
            “Hm... sebenarnya sih, Ayah cuma ingin mencari ibu, kemana ya ibu koq lama sekali. Ya, jadi Ayah pikir ibu pasti ada di kamar kamu, makanya ayah masuk.” jelas ayah.
            Saat itu aku diam, walaupun ingin protes prihal tidak diizinkan ayah aku nonton TV. Gak biasanya ayah melarang aku nonton TV di saat ayah dan ibu akan pergi. Tapi, hingga ayah dan ibu pergi, aku tidak berani protes, dan aku tetap tidak boleh nonton TV.

            Nah pada saat ayah dan ibu sudah pergi, aku keluar dari kamar. Diam-diam aku nonton TV film kesukaanku, Putri Duyung. Sebenarnya alasan aku menyukai film karena tokoh utamanya itu digambarkan cantik, baik, dan pemberani. Dan herannya ayah melarang aku menonton film ini di saat film ini akan tayang. Kan aku sedih tidak bisa menyaksikan film ini.
            Di episode kali ini, cerimatnya mereka membantu seseorang yang akan bertabrakan dengan mobil. Pada saat akan terjadi tabrakan teman Putri Duyung dengan kekuatannya berhasil membantu orang tersebut. “Yee...” ucapku senang.
            Dalam kesenangan itu tiba-tiba aku terpikir, “Bagaimana kalau aku punya kekuatan seperti Putri Duyung, ya? Aku kan cantik, baik, pemberani lagi. Gimana ya , caranya agar aku bisa jadi Putri Duyung?”
            “Hm... kayaknya gak bisa deh, mana mungkin juga zaman sekarang ada Putri Duyung, mustahil.” kataku sendiri. Dan film itu pun berakhir. Kantuk pun mulai menyerang. Aku pun tertidur di kursi. Dalam tidurku aku bermimpin menjadi Putri Duyung dan membantu orang. Aku merasa senang karena aku menjadi Putri Duyung. Karena senangnya aku, tertidur sambil tersenyum-senyum. Tapi, tanpa kusadari ternyata ayah dan ibu memperhatikanku dari tadi. Hingga ayah pun berkata, “Mulai sekarang kamu...?”
            “Apa, Yah?’ aku tak sabar menantikan kelanjutan kalimat ayah.
            “Kamu boleh nonton film Putri Duyung.” 
            “Yang bener, Yah?” tanyaku gak percaya. Ayah mengiyakan dengan anggukan.
            “Terima kasih, Ayah.”
(XI MTs. Aisyiyah)

Comments

Popular Posts