Karya Anak Bangsa_4


Buku Motovasi
Sri Wulandari Yansih

Malam ini, adalah malam yang tenang bagiku di asrama. Malam ini aku hanya berbaring di tempat tidurku. Namaku, Sri Wulandari Yansih, hobiku membaca, tapi membaca buku cerita. Kembali ke malam lagi. Aku sedang berbaring di tempat tidurku yang empuk, tiba-tiba datang tetangga dari sebelah kamarku. Melihat buku dalam pegangan tangannya, aku merasa tertarik untuk melihat judulnya. Dan tanpa ragu, aku meminjam buku itu, dia tidak keberatan, kalau dia keberatan pasti aku akan mengomelinya. “Sebuah Pengorbanan Anak untuk Bertahan Hidup.” bacaku dalam hati.

Aku mulai membuka lembar demi lembar buku tersebut. Ternyata isinya sangat mengharukan. Seorang anak kecil dengan gigih menghadapi semua masalahnya. Di dalam buku itu diceritakan bahawa seorang anak disiksa lahir, batin, fisik, dan rohani oleh ibu kandungnya sendiri. Dalam hati aku berkata, “Kok bisa ya? Ibu kandung sejahat itu kepada anaknya? Apa tidak diingatnya betapa susahnya ia melahirkan anaknya? Hingga dia begitu tega memperlakukan anaknya lebih rendah dari binatang?”
Entah kenapa dadaku terasa sesak sekali membaca buku tersebut. Tak terasa mataku meneteskan butir-butir air bening di pipiku. Aku menangis terisak membaca buku itu. Anak yang diceritakan di buku itu bernama David Pelzer, dia mempunyai 5 saudara, dan ia merupakan anak ketiga. Entah mengapa hanya dia saja yang disiksa ibu yang disayanginya itu. Bahkan ayahnya sendiri tidak dapat membantunya.
Dalam buku tersebut, ia dijadikan pembantu di rumahnya. Selain itu, ia juga sebagai tempat pelampiasan emosi ibunya. Pernah berhari-hari ia tidak diberi makan. Hingga pukulan dari ibunya itulah yang sudah dianggapnya sebagai makanan sehari-hari. Pernah juga ia disuapi racun, pembersih kamar mandi, hingga sabun cuci piring sampai lidahnya terkelupas. Dia pernah ditusuk oleh ibu pakai pisau, disuruh tidur di bawah meja makan tanpa selimut dan tidur di teras rumah tanpa diberi makan. Tetapi, ia harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Aku tambah terisak membaca buku tersebut. Aku berpikir, betapa beruntungnya hidupku. Meskipun harus berpisah dengan my family hingga bertahun-tahun. Setidaknya aku tidak disiksa lahir dan batin oleh orang yang aku sayangi. Aku merasa salut kepada David, karena dia mampu bertahan hidup dalam rumah “gila” itu. Akhir cerita ia dibantu oleh guru-guru di sekolahnya. Dan juga ditempatkan polisi di tempat yang aman dari jangkauan ibu jahatnya itu. Sampai sukses.
Aku dapat mengambil pelajaran dari kisah nyata ini. Bahwa apapun masalah yang datang, kalau dihadapi dengan keikhlasan, kesabaran, keberanian dan hati yang teguh pasti masalah itu dapat dilewati meskipun harus menanggung derita terlebih dahulu.
Aku membaca buku tersebut dengan air mata yang mengalir di kedua pipiku. Sampai-sampai aku tidak menyadari kalau orang yang bukunya aku pinjam memperhatikan aku dan berkata, “Ya Allah, Kak Nan, sampai basah tu baju. Hahaha.”
“Iya, Dek, sedih kali ceritanya.” jawabku dengan suara parau.
Mulai tadi malam aku bertekad bahawa aku harus lebih berhasil dari David yang tersiksa. Meskipun aku tinggal jauh dari kedua orang tuaku. Karena sudah dari kelas V SD aku tinggal di asrama.
(IX MTs. Aisyiyah)

Comments

Popular Posts