Kisah di Balik Jendela
Enam bulan yang lalu, aku mencoba menolak
rumah ini. Rumah yang katanya ayah punya nilai sejarah tersendiri. Ya, hanya
itu yang ayah katakan ketika pertama kali kami melihatnya. Sebelum benar-benar
membelinya, ayah, kakakku, dan aku memantau terlebih dahulu perihal cocok
tidaknya rumah ini. Bagiku tidak ada yang menarik dari rumah ini, selain kesan
seram dan suram yang ditimbulkan dua rumah yang mengapitnya di sisi kanan dan
kiri. Rumah bergaya Victorian dengan atap teras depan mirip seperti rumah siput
ini, memiliki tiga lantai, lantainya didesain dengan sentuhan kayu berwarna kecoklatan
dan di dindingnya terdapat ukiran batik, mungkin pemiliknya terdahulu pengusaha
batik. Secara keseluruhan masih terlihat kuat dan bagus. Dan ayah amat sangat
tertarik, tiga hari pemantauan ayah menjadi pemilik sah rumah yang sudah tiga
tahun tidak berpenghuni ini.
“Kenapa
sih pilih rumah ini, Yah? Kayak nggak
ada rumah yang lebih bagus aja?”
“Dari tiga hari yang lalu
pertanyaanmu itu aja, Ra, kayak nggak
ada pertanyaan lain aja?” balas Ayah dengan senyum penuh kesenangan di bibirnya.
“Ya bukan begitu, Yah. Di sini tu sunyi, sepi, jauh dari keramaian, nggak ada teman, apalagi teman sebaya…”
“Bukan nggak ada,
tapi belum ada.” Ayah memotong kalimat tak tuntas dariku.
“Terus, masalah sunyi sepinya gimana?”
“Mungkin, satu atau dua bulan lagi, rumah sebelah sudah
berpenghuni?
“Satu atau dua bulan lagi? Kelamaan, Ayah!”
“Terus, mau gimana?
Nggak mungkin dibatalin kan?” Aku
hanya mengangkat bahu menyatakan ketidaktahuanku.
Yang sedikit bisa membuatku untuk mencoba tinggal di
rumah ini adalah jendela. Ya, secara keseluruhan jendelanya berjumlah 36 buah. Bagiku
jendela selalu menjadi tempat favorit. Dan berharap di rumah ini juga begitu.
“Suka dengan kamarnya, Ra?” pertanyaan Ayah tidak langsung
kujawab, begitu melihat jendela, kakiku langsung melangkah ke sana. Jarak
antara lantai kamar dengan kusen jendela kira-kira 60-70 cm. Kubuka perlahan
jendela berdebu itu, hufh… menyengat sekali aromanya, khas seperti rumah tak
berpenghuni. Kuedarkan pandangan ke sekeliling kanan, kiri, masih belum ada
yang menarik buatku. Yang ada pandanganku terpaku pada jendela bagian samping
rumah yang masih belum berpenghuni juga, terlihat sebuah ruangan kosong di
seberang sana. “Gimana, Ra?” Ayah
mengulang pertanyaannya.
“Dindingnya masih bagus ya, Yah. Mmm… Nara, sendirian,
Yah, di kamar ini?” Ayah mengangguk mengiyakan. “Kak Disti, kamarnya di mana,
Yah?”
“Karena kamarnya ada tiga, Kak Disti, pilih kamar yang
di lantai 2.”
“Kenapa nggak
di lantai 3 aja, Yah, bareng Nara?
Kamar yang satunya, yang di samping kamar Nara, Ayah yang pake?” lagi-lagi Ayah hanya mengangguk.
***
Malam menanjak tinggalkan benderang yang siang tadi
meraja hari. Tidak terasa enam bulan sudah aku menempati kamar ini. Tanpa
sempat singgah sedetik pun di balik jendela. Tugas sekolah yang menumpuk,
memaksaku meninggalkan sejenak kebiasaanku. Kebiasaan yang sebenarnya sungguh
kurindukan. Bersantai di balik jendela dengan sebuah buku di tangan, ditemani
segelas jus alpukat dan tak ketinggalan keripik singkong buatan Kak Disti.
Tujuh bulan berjalan tugas sekolah dan ujian selesai,
saatnya menikmati kenyamanan di balik jendela. Tumpukan buku fiksi plus keripik buatan tangan Kak Disti
telah siap menemani. Pandanganku langsung tertuju ke ruangan kosong di seberang
jendela. Aku tidak tahu kenapa tapi, ada yang tak biasa di sana. Apa karena aku
baru kali ini melihatnya lagi atau memang begitu keadaannya dari
kemarin-kemarin. Entahlah. Sayup-sayup kudengar kebisingan dari ruangan kosong
itu.
“Aku lelah, Mas, dengan hubungan kita. Kita tinggal
serumah, punya anak, tapi…”
“Tapi apa? Bukankah itu sudah cukup?”
“Kita tidak punya buku nikah, Mas?”
“Buat apa?”
“Buat apa katamu?”
“Buku nikah itu penting, Mas. Sebentar lagi Lila
sekolah, dia butuh akta lahir, dan syarat pembuatan akta harus ada buku nikah
kedua orang tuanya?”
“Gimana kita
mau punya buku nikah? Kita kan hanya kawin tidak nikah?”
“Hanya kamu bilang, Mas?”
“Lalu mau kamu apa? Kita menikah?” Si wanita
mengangguk mengiyakan. “Kalau kita menikah, kita harus menemui orang tuamu, dan
kamu sendiri tahu bagaimana respon orang tuamu terhadap aku kan? Mereka selalu
anggap aku ini pengangguran, gak pernah mau berusaha.”
Sejenak kebisingan itu berhenti. Rasa penasaranku
muncul. Kuletakkan buku Cokelat dan
Sepotong Dosa karya Pudji Isdriani K, yang menemaniku sedari tadi. Kuturunkan
kakiku, kupandangi ruang kosong itu. Tidak ada apa-apa, yang ada masih sepetak
ruang hampa tanpa penghuni. Dari mana asal suara tadi? Tanyaku dalam bingung. Kulanjutkan
kegiatanku. Suara-suara itu malah muncul lagi.
“Mas, sekarang kamu sudah bukan pengangguran lagi,
usahamu bahkan sukses. Klienmu
banyak. Apa itu belum cukup untuk menambah keberanian dan percaya dirimu di
depan orang tuaku?”
Aku jadi tidak ingin berhenti, aku ingin mendengarkan
perbincangan itu terus.
“Sebenarnya bukan itu masalahnya, Sayang.”
“Lalu apa, Mas?”
“Sebelum kamu meninggalkan rumah, Papamu memberikan
ini padaku.”
“Apa itu, Mas?”
Aku ingin menoleh, melihat apa yang ia berikan kepada
si wanita. Tapi mendadak suara-suara itu hilang lagi saat aku menatap ruangan
itu. Agak aneh kurasakan di sini. Tapi aku ingin terus. Terus mendengar apa
yang akan terjadi. Dan suara itu muncul lagi saat aku menatap buku di
hadapanku.
“Ini surat, tapi kurasa ini bukan surat, ini lebih ke
peringatan yang diberikan Papamu dan baru kubuka seminggu yang lalu.”
“Apa isinya, Mas?”
“Baca sendiri.”
Kurasakan
si pria memberikan sesuatu kepada si wanita. Dan aku tidak ingin menoleh,
karena ketika itu kulakukan semuanya akan hilang. Kutujukan mataku tetap pada
buku yang kubaca tanpa konsentrasi. Dan benar suara itu muncul.
“JANGAN
PERNAH BAWA ANAKKU KEMBALI KE RUMAH KAMI. KARENA SEJAK BERSAMAMU, IA SUDAH
TIDAK DIANGGAP SEBAGAI ANGGOTA KELUARGA KUNTJARANINGRAT LAGI!!!”
“Sayang…
Hey, Sayang, kamu kenapa? Maaf aku
memberitahukanmu soal ini, tapi cepat atau lambat kamu harus tahu. Sayang!!!
Bangun, Sayang... aku mohon. Kita akan cari cara supaya kita bisa menikah. Aku
janji.”
Kurasakan
ada yang jatuh di seberang sana, mungkin si wanita tidak kuat membaca
peringatan orang tuanya, dan jatuh pingsan.
“Nara!!!” panggilan
Kak Disti menahan niatku untuk menoleh, dan suara-suara itu menghilang. Sebelum
turun kupandangi ruangan itu. Masih seperti semula. Hampa.
“Ya, Kak.”
“Ngapain sih di atas mulu?”
“Biasa,
Kak!”
“Nongkrongi jendela lagi?” kubalas dengan
senyuman pertanyaan Kak Disti. “Apa enaknya sih,
nongkrong di jendela? Udah kayak
burung aja.”
“Biarin kayak burung, tapi kan burung cantik.”
“Iya burung
cantik, tapi lebih cantik lagi kalau kamu bantuin Kak Disti deh.”
***
Sejak kejadian berisik di seberang jendela, aku jadi
selalu menyempatkan diri duduk di balik jendela. Tapi beberapa hari kucoba, suara-suara
berisik itu tidak muncul. Sampai akhirnya…
“Pak, apa kesalahanku sudah tak termaafkan lagi.
Sebegitu marahkah Bapak kepadaku?”
Tak terdengar respon dari yang diajak bicara, tapi
volume suara kali ini agak lebih jelas dibanding peristiwa “buku nikah” kemarin.
“Dulu aku memang bandel, Pak. Bahkan tingkat
kebandelanku bisa dibilang tidak wajar, kebandelanku sudah melampaui batas
usiaku saat itu. Bahkan aku terkesan jahat di mata bapak dan abang-abangku.”
Kembali suara itu terdengar. Aku menoleh ke arah
jendela seberang, suara itu menghilang. Kali ini aku menikmati jendela tidak
dengan membaca buku, takut kehilangan konsentrasi, aku hanya menikmati
secangkir Good Day Moccacino.
Kupandangi cangkirku, kutiup perlahan, lalu kuhirup. Syahdu rasanya. Benar-benar
kenyamanan yang luar biasa.
“Aku hanya ingin memperkenalkan istri dan anakku, Pak.
Itu saja.” Suara itu muncul lagi.
Seperti ada langkah kaki yang mendekat ke arah mereka.
Mendekat ke arah si bapak dan dengan setengah berbisik berkata, “Anaknya lucu,
Pak.” Ternyata seorang wanita, sepertinya ibu dari pria itu.
“Bu.” sapanya.
“Sudah lama kalian datang?”
“Tidak juga, Bu. Ini istri dan anakku, Bu. Ratih dan
Widuri” Si wanita dan si anak kecil melangkah mendekati si ibu. Si ibu
menyambutnya dengan hangat.
Keinginan menoleh yang susah untuk ditahan lagi-lagi
membuatku kehilangan suara-suara itu. Tapi ada apa sebenarnya dengan ruangan
kosong rumah di seberang sana? Mengapa suara-suara itu bisa muncul seperti
nyata.
Lamunanku terusik oleh kehadiran Kak Disti. Tanpa basa
basi Kak Disti celingukan di pinggir
jendela.
“Cari apa, Kak?”
“Nggak ada,
apa menariknya sih duduk di sini, Ra?
kok kamu bisa amat sangat betah? Nggak
takut apa dengan ruangan kosong di seberang situ?”
“Kenapa
mesti takut? Ini tempat yang paling nyaman dari rumah ini, Kak. Lagian
ruangannya kan nggak makan orang?”
“Ya bahaya kalau ruangan makan orang. Ikh, kamu tuh. O iya, Ra, rumah sebelah
besok sudah ada yang nempati.
Akhirnya kita punya tetangga juga.”
“Kenapa,
Kak? Nggak pernah punya tetangga ya
sebelumnya?” tawaku dan Kak Disti pecah. “Tapi rumah yang sebelah mana, Kak,
yang ini?” kataku menunjuk rumah yang ruangannya sering kupandangi.
“Bukan, yang sebelah sana.”
***
Semakin hari semakin penasaran aku dibuat suara-suara berisik
itu. Kisah tak tuntas kemarin, membuat aku terus menunggu kelanjutannya.
Tetapi, semakin kutunggu, semakin tak hadir suara-suara itu.
“Nara.” Panggilan ayah sedikit mengagetkanku.
“Ayah!” jawabku agak kuat.
“Ngapain
siang-siang bolong, duduk di jendela? Ngelamun
ya?”
“Ikh… siapa
yang ngelamun sih, Yah.”
“O… nggak
ngelamun tho? Gimana? Betah kan
di sini? kuiyakan dengan anggukan pertanyaan ayah. “Nggak salah kan pilihan, Ayah?” lagi-lagi aku mengangguk
mengiyakan.
“Bener sih,
Ayah nggak salah pilih. Tapi, coba lihat ruangan di seberang itu.” Tanpa
menjawab Ayah langsung menoleh ke seberang. “Ada yang aneh deh, Yah, di situ.”
“Aneh?”
“Iya, Yah.”
“Ayah! Om Andre udah
datang!” teriakan Kak Disti mengurungkan niatku untuk menjelaskan keanehan
rumah di seberang ke ayah.
“Nanti aja ya,
Nara. Ayah mau pergi sama Om Andre dulu.”
“Iya, Yah.”
Kembali kunikmati jendelaku. Berharap suara-suara
kemarin muncul kembali menuntaskan cerita yang masih menggantung bagiku. Tapi,
lagi-lagi, di saat aku menginginkan suara-suara itu muncul, tak sedetik pun ia
terdengar. Rasa penasaranku semakin bertambah. Dua minggu sudah suara-suara itu
kutunggu, tapi selama itu juga suara itu tak hadir.
Tugas sekolah kembali menumpuk, aku kembali tidak
dapat menikmati jendelaku. Tapi di sela-sela pengerjaan tugas, iseng-iseng aku
duduk di jendela, menanti kedatangan senja. Dan suara-suara itu muncul, entah kenapa ada rasa senang dalam hati
mengetahui suara itu muncul lagi.
Dalam samar kudengar, “Kau bisa bawa aku jauh dari
orang tuaku, Jo!”
“Aku?”
“Iya, kau harapanku satu-satunya, Jo!”
“Tapi kenapa
harus aku? Tunanganmu mana?
“Jangan bahas itu, Jo!”
“Ok, tapi kenapa
kau ingin jauh dari orang tuamu? Ada masalah apa sebenarnya, Nad?”
“Jo, kau cukup bawa aku ke tempat yang jauh, setelah
itu kau boleh tinggalkan aku”
“Tapi, Nad…”
Kalimat tak tuntas itu mengakhiri perbincangan yang
kudengar. Dan suara itu menghilang tanpa aku menoleh ke ruangan itu.
Tiga bulan berlalu, aku tak menikmati jendelaku, malah
terkesan mengacuhkan. Tak menanti kehadiran suara-suara yang membuatku bingung
dari mana asalnya. Yang kulakukan hanya konsentrasi dengan sekolahku.
Hingga di suatu sore yang cerah, suara-suara itu
muncul. Tapi kali ini terdengar amat sangat jelas. Bahkan tanpa aku harus duduk
di jendela.
“Kalau sudah nikah nanti, kita tinggal di sini ya,
Mas?”
“Di sini kan bagus, dekat dengan Ayah dan adik kamu”
“Iya sih, Mas. Aku juga udah sehati sama daerah sini.”
Perbincangan itu terhenti. Sepertinya kedua orang itu
sedang mengitari ruangan kosong itu. Lama sudah aku tidak berharap mendengar
suara-suara itu, kini ia muncul dan rasa penasaranku mendadak hadir, aku malah
ingin tahu apa yang mereka lakukan. Tapi jika aku menoleh yang terlihat hanya
sebuah ruang kosong tak berpenghuni.
Suara di seberang sana terdengar semakin jelas, “Catnya
kita ganti ya, Mas.”
“Pastinya donk,”
Kenapa
sepertinya aku mengenal suara dua orang yang sedang berbincang itu. Ah, benarkah?
Seperti suaranya Kak Disti. Tapi apa iya Kak Disti? Aku benar-benar ingin
menoleh, memastikan kebenaran suara yang kudengar. Aku tak peduli jika suara
itu harus hilang, aku hanya ingin memastikan. Dengan berat aku menoleh ke
ruangan itu.
Ruangan itu tidak kosong lagi, ada Kak Disti dan Mas
Pram di sana. Suara-suara kemarin tidak akan pernah kudengar lagi, suara yang
sampai saat ini aku tidak tahu dari mana asalnya tidak akan pernah ada lagi.
Dan kisah di balik jendela berakhir di sini.
***
Comments
Post a Comment