Karya Anak Bangsa_2
Film Horor
Khasanah Mustika Syahputri
Ketika di sekolah,
aku dan teman-teman sering bercerita mengenai film horor. Setelah bercerita aku
dan teman-teman malah ingin menonton filmnya. Dankami pun membuat janji untuk
menonton bersama-sama di rumahku.
Waktu yang
ditentukan tiba. Setelah melakukan persiapan seadanya, kami pun mulai memutar
filmya. Kami menyaksikan dengan sangat serius, sangking seriusya kami terdiam
seribu bahasa, seolah-olah kami benar-benar berada di lokasi film horor
tersebut, kuburan. Saat adegan sedang menagangkan, tiba-tiba terdengar suara
tok-tok-tok di depan pintu rumahku. Kami serentak, tanpa komando, langsung
menjerit, “Huaaaa...” Setelah dilihat, ternyata itu adalah suara ketukan
pintu dari temanku yang terlambat datang. Setelah itu kami pun melanjutkan
menonton kembali.
Saat
adegan menegangkan muncul kembali, tiba-tiba listrik padam. Kami yang tadinya
diam seribu bahasa menjadi ribut berbagai bahasa. Suara adzan akhirnya membuat
kami terdiam kami. Kami memutuskan apa yang harus dilakukan dan keputusan pun
menyatakan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Sepulang
teman-temanku, aku di rumah sendiri. Aku beranjak ke kamar mandi untuk
berwudhu, karena waktu shalat telah tiba. Ketika di kamar mandi, aku mendengar
suara wanita tertawa, “Hahahahaha”. Aku terkejut, terdiam dan tak bergerak sama
sekali. Apa lagi pada saat itu listrik sedang padam. Kemudian, aku memberanikan
diri untuk keluar dari kamar mandi. Tiba-tiba aku mendengar suara “kreeek…”
seperti bunyi pintu dibuka. Aku berlari sekuat tenaga karena takut, karena ada
ruangan tertentu yang kurasa menyeramkan. Akhirnya aku sampai di kamar sambil
membayangkan dan berkata dalam hati, “Betapa menyeramkan wajah hantu itu jika
dilihat dari “mata”ku ini. Aku pun menunaikan sholat dan berdoa semoga
dilindungi dari segala bahaya dan kejahatan, baik itu manusia, jin, setan,
maupun hewan. Tak lama, kakakku menelepon, “Haloo Utti?” tanya kakakku.
“Iya,
Saya, Kak.” aku menjawab dengan nada sedikit gemetaran.
“Utti,
kakak ada di rumah, di kamar belakang. Kakak mau minta tolong sama Utti. Tolong
ambilkan buku kakak yang ada di kamar Utti, ya.” kakakku berkata lagi.
Oh,
ternyata bunyi dan suara tertawa tadi adalah suara kakaku di kamarnya. Ya ampun
kakak, kakak. Aku sudah gemetaran karena takut, ternyata kakaku sendiri pelakunya.”
(IX
MTs. Aisyiyah)
Comments
Post a Comment